Pikiran Intrusif Bisa Jadi Masalah Kesehatan Mental

Pikiran Intrusif Bisa Jadi Masalah Kesehatan Mental

Awas, Pikiran Intrusif Bisa Jadi Indikasi Masalah Kesehatan Mental

Pikiran Intrusif Bisa Jadi Masalah Kesehatan Mental – Sebagian besar dari kita suka merasa terkendali, terutama ketika itu datang ke pikiran kita. Terkadang pikiran terkesan hilang ara. Seperti mendapati diri melamun tiba-tiba, mengikuti serangkaian pemikiran yang tidak ada hubungannya dengan tugas yang ada. Pikiran intrusif adalah pikiran yang mengganggu, sering membuat orang dilematis harus berbuat apa.

Bukan tak mungkin kamu pernah mengalaminya. Ketika sedang berbicara orang lain tiba-tiba timbul pikiran untuk meninju lawan bicara, membayangkan orang berlalu lalang tanpa busana, atau curiga orang asing adalah perwujudan monster. Itulah beberapa contoh aplikasi idnplay pikiran intrusif.

Pikiran intrusif tidak selalu berhubungan dengan masalah medis yang mendasarinya. Namun, bagi beberapa orang, pikiran ini bisa menjadi gejala dari kondisi kesehatan mental tertentu.

Penyebab seseorang mengembangkan pikiran intrusif

Melansir Healthline, pikiran yang mengganggu bisa terjadi begitu saja, tidak menciptakan kesan abadi, tetapi bisa kambuh dan bertahan lebih lama.

Dalam beberapa kasus, pikiran intrusif merupakan indikasi dari kondisi kesehatan mental seperti PTSD atau OCD. Pikiran ini juga bisa menjadi indikasi masalah kesehatan lain, meliputi:

  • Demensia;
  • Cedera otak;
  • Gangguan makan;
  • Penyakit Parkinson.

Sementara itu, perubahan kesehatan mental yang berkaitan dengan pikiran intrusif tidak bisa dipandang sebelah mata. Gejala awal yang mungkin akan ditunjukkan ialah:

  • Perubahan pola pikir;
  • Pikiran obsesif;
  • Pikiran mengenai citra yang mengganggu.

Mendiagnosis pikiran intrusif

Bila kamu merasa mengalami indikasi pikiran intrusif, jangan ragu menemui dokter untuk proses diagnosis. Langkah pertama yang mungkin akan dilakukan adalah meninjau gejala dan riwayat kesehatan secara menyeluruh.

Dokter juga mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik lengkap dan evaluasi psikologis awal. Jika dokter tidak menemukan masalah fisik yang mengarah pada pikiran intrusif,  dokter dapat memberi rujukan ke ahli kejiwaan untuk diagnosis lebih lanjut.

Apakah yang dimaksud dengan pikiran intrusif?

Menurut National Institute of Mental Health, pikiran intrusif adalah salah satu gejala dari kondisi tertentu seperti kecemasan, depresi, gangguan stres pasca trauma (PTSD), serta gangguan obsesif kompulsif (OCD).

Pikiran intrusif dapat bersifat eksplisit, artinya seseorang cenderung memilih untuk merahasiakannya dan enggan mencari bantuan medis karena malu. Kondisi ini dapat bertahan lama dan menyebabkan tekanan yang signifikan pada beberapa orang. Tak jarang, makin kuat tekad seseorang melepaskan diri dari pikiran intrusif, makin kuat pula cengkeraman pikiran tersebut dalam memengaruhi individu terkait.

Anxiety and Depression Association of America (ADAA) menjelaskan, pikiran intrusif sifatnya tidak disengaja, tidak ada kaitannya dengan kenyataan atau keinginan, serta orang yang mengalaminya cenderung merasa terkejut dan tidak dapat menerima pikiran tersebut.

Jenis-jenis pikiran intrusif

ADAA memperkirakan lebih dari 6 juta penduduk Amerika Serikat (AS) mungkin memiliki masalah pikiran intrusif. Kabar buruknya, mayoritas tidak memeriksakan dirinya ke dokter akan kondisi tersebut.

Menurut OCD-UK, terdapat empat jenis pikiran intrusif, yaitu:

  • Sexual intrusive thoughts: pikiran intrusif jenis ini mengarah pada topik seksualitas. Seseorang dengan sexual intrusive thoughts dapat mengembangkan pikiran mengganggu seperti takut tertarik secara seksual pada bayi, anggota keluarga, serta ketakutan mengenai orientasi seksual.
  • Relationship intrusive thoughts: contohnya ialah kecenderungan untuk menganalisis kekuatan perasaan pasangan secara obsesif, mencari celah kesalahan pasangan, mencari kepastian dari pasangan secara terus-menerus, dan meragukan kesetiaan.
  • Religious intrusive thoughts: contoh kasus adalah pikiran tentang Tuhan yang tidak akan mengampuni dosa manusia, pikiran negatif akan gambaran sebuah fondasi keagamaan, takut hilang kepercayaan pada Tuhan, terus-menerus menganalisis keimanan, serta merapalkan doa-doa tertentu terus-terusan.
  • Violent intrusive thoughts: seseorang yang mengalami pemikiran intrusif jenis ini mungkin akan menghindari kontak dengan orang lain dan tempat umum. Ia juga bisa juga mengembangkan pikiran yang merugikan orang lain.

Pengobatan dan perawatan pikiran intrusif

Setelah melalui proses diagnosis, dokter dapat memberi rekomendasi pengobatan dan perawatan untuk meredakan gejala, yang meliputi:

  • Terapi perilaku kognitif
  • Obat resep dari dokter seperti antidepresan atau selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs)
  • Perawatan diri melalui manajemen stres dan coping mechanism untuk membantu mengurangi frekuensi atau intensitas pikiran yang tidak diinginkan

Pikiran intrusif tidak selalu mengarah pada masalah kesehatan atau perilaku yang mendasarinya. Namun, jika pikiran tersebut berdampak signifikan terhadap kehidupan sehari-hari, maka konsultasi pada dokter adalah pilihan terbaik.

Comments are closed.